“Kamu
salah jurusan? Iya ta?”
“Bisa
lulus 4 tahun ya padahal dolaaann terus. Aku yang kerjaannya cuma kuliah ga
selesai-selesai nih mbak. Bagi tips dong”
Well,
I’ll answer those questions here.
Saya
salah jurusan?
Absolutely yes. Kenapa? Karna saya tidak pernah punya cita-cita
untuk melanjutkan study dengan konsentrasi ilmu Bahasa Inggris. Bahkan saya
sangat tidak mengerti tentang bahasa Inggris.
Selama SMA nilai-nilai yang
terendah adalah nilai mata pelajaran Bahasa Inggris. Tapi kehendak orang tua (yang secara tidak langsung) menginginkan saya untuk melanjutkan kuliah mengambil
jurusan Bahasa Inggris, ya mau bagaimana lagi. Saya sadar diri saja kalau
kuliah masih bergantung biaya dari orang tua, jadi harus tunduk keinginan orang
tua. Tapi saya selalu percaya bahwa menaati kata orang tua pada akhirnya pasti
membawa berkah. So I can enjoy my study meskipun merasa salah jurusan.
Tentang
hobi traveling
Mahasiswa jaman sekarang mana ada yang tidak suka traveling? Semua
suka traveling. Apa lagi orang seperti saya yang memiliki banyak komunitas di
dalam maupun luar kampus. Ajakan untuk traveling sudah seperti teriakan mama
dipagi hari untuk membangunkan sholat subuh.
I’m
a person who can’t say no. Selama saya sehat, tidak ada kegiatan yang
mengharuskan untuk stay di sekitar kampus dan kantong juga sehat, let’s go. Disaat
seperti itu, ancaman untuk mengulur-ulur mengerjakan skripsi sangat kuat. Beberapa
hal sangat menyelamatkan saya untuk bisa bertahan dari godaan untuk tidak
menyentuh skripsi. Diantaranya adalah:
1.
Prioritas
Lulus
di tahun 2015 telah saya jadikan prioritas tertinggi. Untuk itulah meskipun
saya suka bersenang-senang saya selalu ingat bahwa skripsi juga harus dijamah.
2.
Deadline
Membuat
deadline untuk menyelesaikan skripsi step by step dan memasang deadline
tersebut pada layar handphone, layar laptop, juga cermin di kamar akan selalu
mengingatkan saya. Sehingga saya selalu mencari waktu satu atau dua jam setiap
harinya untuk mengerjakan skripsi demi mengejar deadline, tanpa mengganggu
kebersamaan dengan teman.
3.
Pena dan kertas
Pena
dan kertas sudah seperti sahabat, terbawa kemana saja hendak pergi. Untuk apa? Untuk
jaga-jaga siapa tau dapat inspirasi tentang skripsi. Karna inspirasi sering
datang secara tiba-tiba.
4.
Insomnia
Sebagai
mahasiswa tingkat akhir, insomnia adalah penyakit yang membumi. Sebagian orang
mengeluh bahkan datang ke dokter untuk meminta solusi agar tidak terjangkit
insomnia. Tapi bagi saya, insomnia adalah anugrah. Karna dengan insomnia, saya
bisa menatap laptop dimalam hari dengan durasi yang sangat lama dan tanpa
gangguan untuk mengerjakan skripsi. Think positive!
Begitulah
saya menjalani kehidupan kampus sebagai seorang mahasiswa salah jurusan yang hobi traveling tetapi juga berusaha lulus tepat waktu. Boleh ditiru yang baik-baik, yang tidak baik anggap saja angin lalu. Think positive!
-Sajak Inspirasi-

Komentar
Posting Komentar