Malam itu, 8 Januari 2013, harusnya menjadi malam panjangku bersama sebongkah catatan yang harus ku paksa melekatkan setiap hurufnya pada ingatan. Namun melihatmu berlalu saja pagi tadi menyisakan sedikit gangguan tak diundang. Presepsi, pemikiran terburuk meraup-raup. Kau, bukan orang yang akan mengabaikan wanita ini, bukan. Apa aku akan bertanya? tentu tidak. Biar angin yang berbisik agar ia berkata. Ya, biarlah.
Semenit setelah jutaan kata hina terkumpul dikepalaku, sebuah fakta lebih hina telah datang. Terima kasih Tuhan karna Kau karuniai (lagi) seseorang yang membuat aku harus berpura tegar, berpura menjadi wanita bijaksana, berpura menjadi wanita tanpa air mata. Terima kasih Tuhan karna Engkau menghadiahi dia dengan kawan baru bernama Lupus.
"Cantik ya sahabatmu." Ah, aku menjadi munafik.
"Kuatlah wanita penguat!" hanya itu yang terucap didepan cermin.
Namun tetap saja, setetes demi setetes ketakutan mulai menyeruak, ingatan tiga tahun lalu kembali menyesak. Ingatan tentang sebuah drama kematian yang nyata dulu. Tidak, jangan lagi. Menyaksikan tubuh kaku berbalut kain suci putih yang memasuki liang lahat terlalu menghancurkan. Setidaknya berjuanglah tetap bertahan. Bertahan hingga mampu ku bingkai fajar, kamu, dan senja...
Ah... kenangan...
Malam lalu, kuingat setiap detail waktu 1 tahun terakhir kita. Tak lagi ku jumpai senyummu, tawamu, bahkan kata-kata mu. Aku bahkan lupa bentuk bola matamu, bagaimana caramu tertawa, dan semua tentangmu. Yang ku yakini kau hanya sedang berbahagia. Terima kasih telah menjaganya Tuhan.
-sajak inspirasi-

Komentar
Posting Komentar