Sebuah Analogi


Ini tentang sebuah kisah yang awalnya hanya kubaca tiap katanya, tapi mau tak mau akupun harus terpenjara didalamnya. Kisah tentang persahabatan, rumah, prinsip, kebenaran, fitnah, nama baik, kepalsuan, dan seonggok keperawanan. Entah mana yang akan membuatku tertawa terbahak-bahak.
Yang nampak sekarang adalah sekotak pita berkabut.

Setiap hari aku terduduk disebuah singgasana yang megah. Dengan segala kemakmuran rakyat yang kupimpin. Ya, aku seorang ratu. Indah bukan? Iya indah dan sangat membahagiakan. Didepan rakyatku aku selalu tersenyum, memperlihatkan gigi-gigi indahku. Mataku yang bersinar selalu ku sandingkan dengan bintang. Kereta kencana yang megah, tak ada satupun debu yang hinggap tanpa permisi kepada pelayan. Ini surga yang terlihat oleh rakyatku. Tapi kisah surga ini berubah menjadi sangat menggelitik ketika kau melihat apa yang ada di dalam istana megahku.

Itu dia, si berang-berang dan keluarganya mulai membuang mentah-mentah butiran kue bercampur air comberan. Detik itu pula aku mulai berpikir. Ada kalanya sang koki yang membuat kue itu benar-benar membuat kue bercampur air comberan, atau mungkin sang koki hanya memberi nama kue itu dengan sebutan comberan, atau bahkan sang koki sengaja membuat kue itu dengan sebutan comberan agar tak ada satupun yang mau memakannya.
Bukankah kita harus menanyakan dan memastika kebenarannya terlebih dahulu?
Jika kebenaran telah tergenggam lalu apa yang bisa aku lakukan?

To be continued...
-Sajak Inspirasi-

Komentar