Bagaimana aku tersenyum ketika yang terdengar sebuah lagu sendu?
Mengapa aku bahagia ketika yang terlihat film menyentuh?
Mengapa kini dan selalu yang tergumam adalah lirik-lirik kebahagiaan?
Itulah sepercik pertanyaan yang terbersit disaat senja membawa aktifitas melenyap, saat dunia mensunyi, saat rintik hujan terdengar 10x lipat lebih jelas, saat bintang-bintang dengan cantik menyanyikan lullaby malam, saat pikiran dan seluruh perhatian tertuju pada sebuah sketsa wajah yang telah melekat erat di dalam hati.
Sesaat sebelum terlelap aku selalu mencoba menerka sesosok yang bersinar laksana matahari pagi itu dengan sisa-sisa kesadaran. Sosok itu...
"Laki-laki Matahariku"
Sosok yang teramat mencintai ibundanya,
sosok yang selalu bangga karena telah lahir dari rahim seorang wanita sholehah,
sosok yang entah mengapa membuat aku tersadar bahwa my mother is not only my hero, but also some pieces of my soul,
sosok yang selalu terlihat indah dengan photography
sosok yang terlalu indah untuk dilewatkan.
Dia, Laki-laki Matahariku,
yang menjadi satu-satunya jawaban atas semua pertanyaan
yang menjadi satu-satunya objek photography kehidupanku.
Dia, Laki-laki Matahariku,
yang sketsa wajahnya ku gantungkan diantara 2 pohon beringin kembar Jogja,
yang sketsa wajahnya ku turahkan pada 1000 origami chizuru jepang,
yang sketsa wajahnya tergambar manis di layar ponsel kesayangan.
Dia,
satu,
Laki-laki Matahariku
-Sajak Inspirasi-

Komentar
Posting Komentar